Ayo Melek Literasi

Membaca merupakan gerbang utama seorang manusia untuk mengetahui sebuah informasi. Membaca merupakan akses seseorang untuk mengetahui informasi apapun. Oleh karenanya tak ada seorangpun yang tidak sepakat jika membaca merupakan kewajiban bagi setiap orang. Ayat yang pertama diturunkan oleh Allah SWT adalah iqraa yang memiliki arti yaitu bacalah. Sehingga umat Islam pun harus meyakini bahwa membaca merupakan kewajiban bagi manusia.
Salah satu dari sekian banyaknya permasalahan bangsa Indonesia adalah rendahnya budaya membaca. Hasil riset tahun 2013 mengungkapkan bahwa minat baca siswa Indonesia yaitu 0,01, artinya hanya ada 1 orang siswa yang membaca dari 1000 orang anak. Ini terjadi karena banyak faktor yang melatarbelakanginya diantaranya : sumber bacaan yang kurang, sifat malas dari masyarakat atau kecanggihan teknologi yang semakin menyuguhkan berbagai kemudahan sehingga masyarakat lebih memilih yang instan dengan cara mencari informasi di internet jika membutuhkan informasi tertentu.
Permasalahan saat ini munculnya istilah tsunami informasi, dimana informasi menjadi satu bagian yang tidak dapat terbendung lagi. Dengan adanya kemudahan teknologi membuat infrmasi dengan mudanya berseliweran bahkan untuk memberitakan sesuatu yang tidak benar sekalipun atau yang dinamakan hoax. Hoax inilah yang kini sedang menjadi virus dalam keutuhan bermasyarakat bahkan berbangsa karena dengan hoax bertebarlah fitnah atau berita bohong.
Sesuatu yang dapat dilakukan oleh siswa saat ini yaitu dengan cerdas dalam literasi. Siswa dapat memulainya dengan membiasakan diri memilih sumber informasi dari yang jelas sumbernya. Ini kemudian diaplikasikan juga dalam pembelajaran di sekolah, dengan menjadikan buku sebagai sumber utama pembelajaran merupakan langkah yang tepat dibanding dengan membiasakan hal yang kurang baik yaitu mencari bahan pembelajaran atau materi dengan internet yang belum jelas referensinya.
Para ahlipun bersepakat bahwa pembinaan sejak dini merupakan langkah yang strategis dalam pendidikan anak. Anak yang di stimulasi sejak dini kelak dewasa akan menjadi pribadi yang baik. Karena pendidikan sejak dini merupakan pondasi utama yang membuat anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terampil dan cakap.
Oleh karena permasalahan rendahnya minat baca yang salahsatunya berefek pada ketahanan jiwa manusia dalam membendung arus informasi dan dalam upaya mencari informasi maka penulis beranggapan bahwa harus adanya peningkatan minat budaya baca.
Dengan minat baca yang baik, seorang anak akan memiliki wawasan yang luas. Dan dengan budaya baca yang baik maka akan membuka cakrawala dunia informasi yang baik. Selain itu dengan upaya mendorong pembelajaran di kelas dengan menggunakan buku sebagai sumbernya. Anak yang terbiasa memiliki budaya baca yang baik cenderung tidak akan dulu mudah mengutip suatau informasi dari sumber yang tidak jelas, apalai share berita yang hoax.
Bagi penulis yang konsen di bidang pendidikan anak, akan mendorong upaya literasi dini yang baik bagi anak. Anak usia dini harus distimulasi oleh orang dewasa seperti orangtua dan guru disekolahnya bagi yang mengikuti program prasekolah. Literasi dini harus mendapat dukungan terutama dari orangtua. Orangtua merupakan orang pertama yang berinteraksi dengan anak. Seorang anak kecil lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama orangtuanya. Sehingga orangtua sangat mempengaruhi perilaku dan tingkah laku anak. Keterlibatan dan peran orangtua perlu dioptimalkan sebagai orang signifikan dan guru pertama bagi anak.
Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menstimulasi anak usia dini contohnya orangtua membacakan cerita pada anak dan mengajarkan anak agar senang terhadap buku. Walaupun pada anak usia dini anak belum bisa membaca akan tetapi dengan menanaman perasaan senang saja sudah merupakan stimulasi bagi anak usia dini.

Selain itu juga harus mendorong pemerintah dalam penyediaan buku bacaan yang baik bagi siswa. Upaya mendorog adanya perpustakaan atau ruang baca umum yang disediakan pemerintah di setiap desa/kelurahan. Bagi anak usia dini didorong penyediaan sumber bacaan yang baik dan menarik. Sumber bacaan harus tersedia dimanapun berada baik di lingkungan keluarga ataupun ruang-ruang publik. Sehingga akses seseorang untuk membaca itu mudah dan seluruh ruang lingkungan mendukung aktvitas literasi bagi semua masyarakat.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Ingin Menulis Kembali

Masyarakat di Desa Saat Pandemik, Siapa Peduli?

Isi Pancasila itu Berasal dari Al-Quran