Masyarakat di Desa Saat Pandemik, Siapa Peduli?


Saya tinggal di pedesaan (bukan kota). Sudah satu bulan lebih ini saya tinggal di rumah. Biasanya saya memang berkegiatan di luar, ya tepatnya saya anak rantau di perkotaan karena kepentingan studi dan beberapa aktivitas sosial saya.
Saya melihat selama pandemik corona ini, semua orang terdampak tanpa terkecuali. Kepatuhan masyarakat Indonesia itu sangat tinggi, kalaupun ada yang kurang patuh atau kurang disiplin ya itu paling beberapa saja. Namun secara garis besar saat social distancing masyarakat Indonesia tergolong patuh, itu pendapatku.
Kepatuhan akan social distancing dipatuhi pula oleh masyarakat di pedesaan. Siapa masyarakat itu? Tentu masyarakat Indonesia yang sama-sama bayar pajak, yang sama-sama diam di rumah saat pandemi, namun mereka masyakarat yang jarang terekspos oleh media. Bukan karena apa-apa tapi karena mereka tak tau harus mengadu dimana, medsos pun mereka tak ada, bahkan di pedesaan itu akses signal telekomunikasi kurang begitu bagus.
Saya gelisah, melihat masyarakat miskin dan rawan miskin sekitar saya. Mereka dengan beragam profesi sama-sama terancam karena pandemik ini. Jeritan mereka mengenai kondisi ini tak terekspos di media. Mereka yang berprofesi sebagai pedagang misalnya mengaku sepi drastis pasca pandemik ini.
Pun tukang ojeg, mereka bukan tukang ojeg yang kini sedang dianakemaskan seperti yang sedang diberitakan. Mereka yang suka mengakut anak-anak sekolah setiap harinya kini sepi penumpang. Beberapa pekerja dirumahkan, usaha rumahan terancam, lalu mereka harus minta bantuan ke siapa?
Alih-alih akan mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun katanya itu baru diusulkan. Baru didata oleh pemerintahan setempat, terkait kejelasan pasti akan sampai ke tangan masyarakat kapan itu bantuannya, tidak ada yang tahu soal itu.
Berbeda dengan kondisi di perkotaan yang saya lihat di layar televisi, banyak uluran tangan dermawan baik secara langsung ataupun disalurkan melalui relawan-relawan NGO yang berempati atas pandemik ini. Dimulai dari yang membuatkan makanan yang siap santap sampai yang menyalurkan sembako pun banyak, namun itu cerita di perkotaan bukan di desa seperti yang saya lihat. Lalu memangnya seperti apa kondisi di desa? Ini yang sedang saya risaukan.
Masyarakat di pedesaan dalam kondisi lapar seperti ini memiliki harapan semoga ada doa yang terkabulkan, doa dan harapan agar corona segera usai. Bukankah doa orang yang lapar itu mustajab? Semoga saja.


#corona

Comments

Popular posts from this blog

Saya Ingin Menulis Kembali

Isi Pancasila itu Berasal dari Al-Quran